Fanfic
Harapan Terakhir
Malam itu suasana hening di markas akatsuki. Semua sedang
menjalankan tugas. Hanya ada Sasori dan deidara.
‘’Tuan, ada seseorang yang mengagumi ledakan ku.’’ Ucap
Deidara memulai pembicaraan dan mengambil posisi duduk disebelah Sasori.
‘’Memangnya ada yang menyukai ledakan aneh mu yang selalu
kau bilang seni itu?’’ Sasori melirik sinis kearah Deidara.
‘’Sudah berapa kali ku bilang tuan, ledakan ku adalah
seni hebat. Seni adalah keindahan yang terlihat cantik, rapuh, dan lenyap dalam
sekejap. Hmmm.’’ Deidara terus membela diri.
‘’Apa kau bilang.. ledakan itu seni? Yang namanya seni adalah sesuatu
yang akan tersisa dimasa depan yang jauh dan jadi indah. Keindahan abadi adalah
seni.’’ Sasori tidak mau kalah. Setiap saat mereka hanya berdebat tentang seni.
Tidak peduli dalam kondisi seperti apapun mereka selalu saja berdebat.
‘’Maaf tuan, seni
ku adalah ledakan, berbeda dengan pertunjukan boneka milik tuan.’’ Deidara
terus saja semakin membela diri.
‘’Sudahlah, aku bosan selalu berdebat dengan mu. Apa yang
ingin kau bicarakan tadi?’’ sepertinya Sasori penasaran juga dengan kata-kata
Deidara di awal percakapan mereka tadi.
‘’Ada seorang perempuan yang mengagumi seniku, terbukti
kan tuan, seni ku memang di akui dunia.’’ Deidara berucap dengan bangganya.
‘’Dunia kau bilang? Hanya di kagumi satu orang wanita
saja sudah besar kepala.’’ Sasori benar-benar merasa heran dengan tingkah
Deidara.
‘’Oh wajar saja aku
besar kepala, Tuan kan tidak pernah di kagumi wanita manapun.’’ Ucap
Deidara blak-blakan.
‘’Deidara.. kau ingin membuatku marah?’’ Sasori
benar-benar tersinggung.
‘’Maaf Tuan.. tapi aku bicara apa adanya, aku tidak
pernah melihat tuan dengan wanita manapun selama ini.’’ Ucap Deidara sambil
menengadah kan kepala nya ke atas,
seperti berharap akan ada jawaban turun dari atas sana.
Sejenak
suasana kembali hening. Seakan tak ada suara apapun yang bisa terdengar. Sasori
mulai memikirkan kata-kata Deidara. Apa yang dikatakan Deidara benar. Tak ada
seorang wanita pun yang menyukai apalagi sampai mengagumi Sasori. Bahkan mungkin wanita akan takut
melihat wajah sasori dan badan nya yang seperti jalan ngesot itu.Semua wanita
hanya menilai dari fisik sasori. Dari luarnya saja. Padahal itu bukan wujud
aslinya. Hanya Deidara dan anggota akatsuki lainnya yang tau wujud Sasori yang
sebenarnya.
‘’Tak ada yang menyukai ku dengan tulus… semua melihat
dari luar ku.’’ Sasori akhirnya bicara dengan nada lirih.
‘’Kenapa tuan tidak keluar saja dari kugutsu*
tuan itu? Pasti semua wanita menyukai tuan.’’ Deidara mengubah posisi duduknya
dan mulai serius menatap Sasori.
‘’Memang benar semua wanita akan suka dengan wujud
asliku, tapi untuk apa itu semua, mereka hanya menyukai parasku. Aku ingin ada
seseorang yang menyukai ku tanpa melihat wujud asliku terlebih dahulu.’’
Sekarang giliran Sasori yang menengadahkan kepalanya keatas.
‘’Tuan benar, aku yakin akan ada seseorang yang tuan
harapkan.’’ Deidara terus memandang Sasori. Ada harapan besar yang bisa
dilihatnya dari raut wajah Sasori.
‘’Terimakasih, kamu sudah siap untuk misi kita
selanjutnya?’’ Sasori mengalihkan pembicaraan.
‘’Aku selalu siap tuan, tinggal sedikit lagi aku berlatih
ledakan baru yang lebih tinggi nilai seninya.’’
‘’Sudahlah, membicarakan seni bisa membuatku marah
padamu.’’ Sasori memilih meninggalkan Deidara dan mulai istirahat.
Two weeks later
‘’Yang
namanya seniman itu, kalau tidak mencari stimuli yang lebih kuat perasaan nya
akan jadi tumpul tuan dan musuh kita tadi lumayan kuat.’’ Ucap Deidara di
pertengahan jalan setelah mereka menyelesaikan misi mereka.
‘’Sebagai sesama seniman, kali ini aku setuju denganmu
deidara.’’ Jawab Sasori dengan santai.
‘’Tranggg…’’
sebuah shuriken** mengenai bagian boneka Sasori yang seperti
ekor.
‘’Rupanya ada yang
sedang main-main dengan kita tuan.’’ Deidara menengok ke arah belakang mereka.
‘’Maaf, aku Cuma lagi iseng melempar shuriken, tak
sengaja mengenai kalian.’’ Seorang wanita dari Negara pasir bernama Temari
menghampiri mereka dengan wajah bersalah dan meminta maaf.
‘’Beraninya kamu mengenai tuan Sasori.’’ Deidara menatap
sinis kearah Temari.
‘’Sudahlah
Deidara, dia tidak bersalah dan juga tidak sedikitpun melukaiku.’’ Sasori
berkata tanpa melihat Temari sedikitpun.
‘’Maafkan aku, aku rela melakukan apapun asal kau
memaafkanku.’’ Temari memohon.
‘’Terserah Tuan Sasori saja, aku ingin pergi, masih
banyak urusan yang belum ku selesaikan.’’ Deidara lekas meninggalkan Sasori dan
Temari.
‘’Sekali lagi
mmm.. mmaafkann aku tuan.’’
‘’Sudahlah, sama sekali bukan masalah, dan jangan panggil
aku tuan, cukup Sasori.’’ Sekarang Sasori dan Temari berhadapan.
‘’Terimakasih Sasori, Namaku Temari. Kamu dari mana? Aku benar-benar tidak melihatmu
tadi.’’
‘’Menyelesaikan misi.’’ Sasori masih saja bicara kaku.
‘’Wah.. pasti capek.. silahkan kalau kamu ingin pulang.
Kapan-kapan mau nggak ku traktir Ramen? Sebagai permintaan maaf ku?’’ Sasori
tertegun sejenak, seumur hdup nya baru ada satu orang wanita yang mengajaknya
jalan seperti hari ini.
‘’Besok temui saja aku lagi disini.’’ Ucap Sasori dan
mereka berdua berpisah.
Three months
later
Seiring
berjalannya waktu Sasori dan Temari semakin akrab. Mereka sering jalan bareng,
dan saling berbagi. Baru kali ini Sasori bisa sedekat ini dengan seorang
perempuan. Sepertinya Sasori mulai menyukai Temari. Begitu pula dengan Temari.
Mereka menjadi sangat akrab. Suatu hari Sasori mengatakan bahwa yang dilihat
Temari bukan wujud aslinya. Temari terkejut.
‘’Seperti
apapun wujudku yang sebenarnya, maukah kamu masih berhubungan denganku
Temari?’’ Tanya Sasori di suatu sore.
‘’Tentu
saja, aku akan tetap menemanimu.’’ Temari yakin
‘’Berbalik
lah.’’
‘’Baiklah.’’
Jantung Temari berdekat sangat cepat seakan ingin keluar, dia membayangkan
seperti apa Sasori dengan wujud aslinya.
‘’Berbalikalah,
lihat aku Temari.’’
Dengan perlahan Temari memalingkan wajah nya. Tak ada
suara. Temari tertegun. Tak pernah disangka nya sdkitpun Sasori setampan itu,
dengan keadaanSasori yang dulu pun ia sudah sangat suka.
‘’Beginilah
aku Temari.’’ Sasori berkata sambil menatap tajam kearah mata Temari
‘’Kau
lebih dari yang kupikirkan, dengan keadaanmu di dalam kugutsu itu saja aku
sudah suka, dan sekarang…’’
‘’Apa?
Kamu juga menyukaiku Temari?’’
‘’Maaf
Sasori, aku menyukaimu sejak pertemuan kita yang pertama. Aku menyukaimu dan
menyanyangimu tanpa alasan apapun.’’
‘’Temari..
aku juga sama. Aku sangat mencintaimu. Maukah kau menjalani hidup denganku?’’
Temari tiba-tiba menangis. Itu membuat Sasori sangat
panik.
‘’Apa
yang salah dari kata-kataku? Apa aku menyakitimu?’’ Sasori mengenggam tangan
Temari.
‘’Aku
bahagia Sasori. Aku mau.’’ Air mata nya semakin deras.
One months later
Derap
langkah dua orang terdengar jelas di telinga Temari. Ditengoknya kebelakang dan
segera di lihatnya orang yang sudah tak asing lagi. Deidara dan Konan dari
Akatsuki.
‘’Ada
apa? Mana Sasori?’’ Tanya Temari yang tak melihat kehadiran Sasori
‘’Kita
kehilangan ahli kugutsu.’’ Ucap Konan dengan ekpresi datar.
‘’Apa
maksud kalian?’’ Temari mulai merasa khawatir, dia tahu betul ahli kugutsu itu
adalah Sasori.
‘’Tuan
Sasori tewas di tangan neneknya sendiri.’’ Deidara mengucapkan dengan wajar
datar pula.
‘’Apa..
tewas? Aku mohon jangan permainkan aku.’’ Temari tidak percaya.
‘’Iya..
Sasori tewas di tangan nenek Chiyo. Nenek nya sendiri, tapi aku tau persis
siapa tuan Sasori, dia tak kan terkalah kan hanya karena seorang Nenek. Sasori
mengalah. Sejak kecil orang tua Sasori sudah tidak ada. Tuan Sasori begitu kesepian
sampai dia membuat kugutsu ayah ibunya sendiri. Itu kugutsu pertama yang dibuat
Sasori. Dia mainkan kugutsu itu dengan tangan-tangan nya sendiri, seolah-olah
ada keluarga yang utuh disekitarnya. Dia hanya ditemani nenek Chiyo. Namun Tuan
Sasori merasa bersalah karna telah meninggalkan neneknya. Dia rela di bunuh
oleh neneknya sendiri dalam suatu misi.’’
Temari
tertegun, air matanya mengalir melewati pipinya. Temari menangis terisak-isak.
Dia tak sanggup berkata-kata. Ada sakit yang teramat sangat dirasakannya.
‘’Temari..
percayalah.. Sasori sangat bahagia karna telah mengenalmu. Orang seperti kamu
lah harapan terakhir dihidupnya. Dan dia sudah mendapatkan itu.’’ Konan berucap
sambil menahan air mata yang sudah bertumpuk dipelupuk matanya.
The End
*Kugutsu
adalah gaya ninjutsu pertempuran yang unik, teknik ini menggunakan benang cakra
untuk mengontrol seperti boneka.
**Shuriken
adalah senjata lempar yang digunakan hampir semua ninja. Bentuknya
bermacam-macam ada yang bintang empat, bintang tiga, ataupun bintang lima.
Tokoh-tokoh
dalam fanfic saya
1. Sasori
Nama : Sasori
Julukan : Akasuna Sasori (sasori
si pasir merah)
Lahir : 8 November
Tampil
pertama : Naruto vol.28 (ch. 247)
Umur : 35(almarhum)
Desa : Sunagakure
Teman : Orochimaru
Deidara
Keluarga : Ayah, Ibu, Nenek Chiyo,
paman kakek ebizo
Kemampuan :
§ Chakura no ito
§ Hito kugutsu
§ Satetsu kaiho
§ Senno sosa no jutsu
§ Akahigi
§ Senjosobu
Peralatan :
Satetsu, kalajengking,hiruko,racun,ayah dan ibu, kazekage
ke 3, jarum,
boneka
2. Deidara
Nama : Deidara
Lahir : 5 Mei
Tampil
pertama : Naruto shipudden eps #2
(ch.247)
Umur : 19 (almarhum)
Pendudukan : Teroris bomber
Kemampuan :
§ Kyukyoku Geijutsu
§ Jibaku bunshin
§ Kage bunshin no jutsu
§ Nendo bunshin
§ Doton: Moguragakure no jutsu
3. Temari
Nama : Temari
Lahir : 23 Agustus
Umur : 15
Desa : Pasir
Keluarga : Kazekage (ayah), Gaara
dan Kankurou (Saudara)
Kemampuan : Temari memiliki elemendasar
angin, yang ia kembangkan
Kipas
raksasanya
4. Konan
Nama : Konan
Lahir : 2o Februari
Umur : -
Jenis
kelamin : Perempuan
Desa : Amegakure
Kemampuan :
§ Shikagami no mai
§ Kami bunshin
§ Kami shuriken
§ Kami no sisha no jutsu
5. Nenek Chiyo
Nama : Chiyo
Lahir : 15 Oktober
Umur : 73
Desa : Konohagakure
Keluarga : Sasori (cucu), Ebizou
(Adik)
Kemampuan :
§ Taijutsu
§ Kisho Tensei
Tentang Penulis
Nama :
Hairun Nisa
Nama Panggilan :
Echa
TTL :
Sungai Alat, 30 April 1994
Facebook :
Echa Hairuen Niysa
Twitter :
@eychea







aikhhhh Muuaannteepp pisan ' muaaachh muacchh dah' hew
BalasHapusTerimakasihh.. Hee nantikan tulisan selanjutnya :)
HapusJadi penasaran driquee.....
BalasHapus